Cinta
itu memang buta, begitu butanya sampai membuat orang melakukan kesalahan yang sangat besar. Kesalahan yang mungkin
akan disesalinya seumur hidup. Kali ini saya akan bagi-bagi cerita cinta ma netter semua
ni,, lansuang aja deh, ni ceritanya......
Usiaku 19 tahun
saat kakak pertamaku menikah. Kami sebenarnya sekeluarga kaget, ia adalah sosok
wanita yang sangat manja dan seringkali berbuat sesuka hati, tetapi ternyata
ada pria yang dengan besar hati mau menyuntingnya. Pada waktu itu kami
mengiyakan saja dan bersyukur, siapa tahu tindak tanduk kakakku dan sifatnya
bisa berubah karena suaminya.
Kami sendiri
sebenarnya tidak cukup banyak tahu asal usul dan kapan mereka berpacaran.
Tetapi setelah bertemu dengan keluarganya, keluargaku setuju karena calon kakak
iparku ini berasal dari keluarga baik-baik. Singkat kata, rencana pernikahan
itu tidak terkendala apapun dan berjalan lancar-lancar saja.
Merekapun menikah
dan menempati rumah sendiri di daerah yang cukup jauh dari rumahku. Demikian,
kami mengira mereka sudah hidup nyaman dan bahagia. Belum sebulan menikah, kemudian kuketahui kakakku sudah hamil. Ia
jadi sering sekali pulang ke rumah dan bermanja pada bunda. Bundaku bersabar
dan diam saja. Kukira memang hal itu sudah wajar, tetapi apa nggak kasihan sama
suaminya yang sering sendirian di rumah? Alhasil, karena tak tega dengan kakak
ipar, bunda mengutusku tinggal sementara di rumah kakak. Untuk sekedar
membantunya mengerjakan hal-hal di rumah karena kondisi hamilnya cukup membuat
ia sering berbaring di kamar.
Kakak iparku bukan
orang yang banyak bicara. Ia cenderung pendiam dan memang terlihat sangat
sabar. Sesekali ia mengajakku ngobrol, tapi hanya seputar studiku saja.
Memberikan saran yang bijak seperti kakak sendiri.
Aku akui, di
kehamilannya kakakku jauh lebih manja dan egois ketimbang biasanya. Pantas saja
kalau ia ngotot pulang ke rumah bunda. Mungkin saja memang ia tak betah
melakukan apa-apa sendiri. Dan aku menerima saja karena sesungguhnya aku juga
menyayanginya, aku juga menyayangi calon keponakan yang ada di rahimnya.
Hari ini kakak
keterlaluan. Aku yang selama ini bersabar sudah tak betah dibuatnya. Baru saja
sebulan aku di sini, aku sudah ingin pulang ke rumah bunda. Setiap hari aku
menelepon bunda untuk menceritakan kondisi dan permasalahan apa yang sedang
terjadi. Bunda hanya memintaku lebih bersabar. "Bunda percaya kalau kamu
bisa lebih bersabar. Makanya Bunda mengirimmu ke sana. Sudahlah, kalau toh
terlanjur menjengkelkan, tinggal saja jalan-jalan sejenak atau bilang kalau
kamu ada kegiatan di kampus," kata Bunda membujukku.
Awalnya aku ingin
segera pulang, tapi kuurungkan niatku karena aku tahu Bunda sendiri sebenarnya
sudah pusing dibuatnya.
Melihatku
termenung di teras lantai atas, kakak iparku menghampiri. "Ada apa?"
tanyanya. Ia jarang mengajakku berbicara, tetapi kali ini aku akan memanfaatkan
momen ini untuk curhat seputar istrinya. Siapa tahu ia bisa mengatasinya.
Manggut-manggut
dan hening sejenak, kemudian ia membuka suara. Ia menceritakan beberapa hal
yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Bagaikan petir, aku baru tahu kalau
sebenarnya kakak iparku tidak mencintai kakakku. Bayi yang ada di kandungannya
bukanlah bayinya. Melainkan bayi adiknya, yang sudah kabur ke luar negri karena
enggan bertanggung jawab atas kondisi kakak.
Sebenarnya waktu itu kakak mengaku sudah hamil
terlebih dahulu agar adik kakak iparku menikahinya. Tetapi ia kabur
entah ke mana. Alhasil, karena tak mau sampai keluarganya mencelakakan keluarga
orang lain, kakak iparku diminta menikahi kakakku oleh keluarganya.
"Jadi begitu
kak... apa yang akan kakak lakukan setelah ini?" pertanyaanku begitu tidak
penting dan mungkin membuat kakak iparku semakin pusing. Sebelum ada jawaban
darinya, aku langsung tersadar dan menggamit lengannya. "Ah sudah kak, ayo
kumasakkan sesuatu untukmu. Kau pasti belum makan," kataku ceria. Lantas
aku tersentak sendiri. Kulepaskan tanganku dari lengannya dan aku sadar bahwa
tak seharusnya aku melakukan hal itu. Aku tak bicara apa-apa dan hanya bergegas
turun untuk memasak untuknya.
Sejak hari itu
sebenarnya sikap kakak iparku berbeda. Ia lebih memperhatikanku, lebih sering
mengajakku ngobrol, lebih sering menghiburku dan menemaniku berbelanja atau
membelikan kakak makanan yang ia inginkan.
Aku merasa ada
yang berbeda. Ia tak seperti kakak ipar bagiku. Ia mungkin adalah sosok kakak
yang hangat, tetapi juga.... membuatku jatuh hati padanya.
"Kamu sudah
punya pacar?" tanyanya, dan kujawab dengan menggelengkan kepala.
"Tidak sedang
jatuh cinta? ah masa, usia segini biasanya kan sedang seru-serunya. Apalagi
kamu... (ia terdiam) Kamu cantik menurutku," katanya lagi membuatku
deg-degan.
Mendengar
kata-katanya aku jadi kegeeran. Mungkinkah ia mengalami perasaan yang sama
sepertiku? Mungkinkah ia juga jatuh cinta denganku?
Hari itu kakakku
memilih bepergian dengan temannya sedari sore. Dan hingga sekarang pukul 10
malam ia tak kunjung pulang. Aku yang resah berusaha meneleponnya, tetapi tak
juga diangkat. Aku kesal. Akupun kemudian naik ke atas ke ruang jemuran di mana
bisa melihat bintang. Aku senang menghabiskan waktu di sana karena suasananya
sepi dan tenang.
"Sedang apa
kamu di sini?" suara kakak iparku mengagetkanku.
"Aku... aku
tidak dengar mobil kakak datang. Eumm... Kakakku belum pulang, jadi aku tidak
bisa tidur..." kataku.
"Ah, biarkan
saja. Mungkin bisa jadi dia malah pulang pagi seperti biasanya."
"Seperti
biasanya gimana?"
"Dulu sebelum
kehamilannya membuat ia mual-mual, ia sering malah tak pulang. Pergi ke cafe
dan nongkrong hingga dini hari. Mungkin sekarang kondisinya baikan, makanya ia
doyan nongkrong lagi," kata kakak iparku tak kaget.
Kusadari memang
kakakku yang satu itu susah dimengerti. Mungkin karena paras wajahnya yang
cantik maka ia tak pernah merasa bersalah bila berbuat seenaknya. Kasihan kakak
iparku.
"Aku ingin
bertanya sesuatu padamu?" tanya kakak ipar.
"Apa?"
"Apakah kamu
juga memiliki perasaan yang sama sepertiku?" Pertanyaannya membuat
jantungku nyaris copot. Apakah memang benar ia memiliki perasaan yang sama
sepertiku? Aku terdiam cukup lama. Menunduk dan tak bisa menjawab apa-apa.
Kediamanku dianggap sebuah jawaban positif bagi kakak iparku. Ia kemudian
merentangkan tangannya dan merengkuhku. Aku merasa nyaman di pelukannya. Aku
merasa cintaku tak hanya bertepuk sebelah tangan. Aku begitu tergila-gila
padanya.
Hari ini kakakku
melahirkan. Aku sudah dua bulanan ini kembali ke rumah Bunda. Dengan alasan aku
lelah dan sudah tak bisa memberinya toleransi. Tetapi hubunganku dengan kakak
iparku tetap baik dan semakin baik. Aku bertahan sebagai kekasih gelapnya di
dalam rumah tangga kakakku sendiri.
"Bunda mau
bicara, dek," kata Bunda sambil memegang bahuku ketika menunggu kakakku
keluar dari ruang operasi.
"Apa sih
bunda?," bunda terdiam kemudian menghela napas panjang seperti sedang
mengatur kata-kata.
"Kamu
mencintai kakak iparmu?" pertanyaan bunda bagaikan petir di hari itu. Aku
tak tahu harus menjawab apa karena aku tak mau bunda bersedih.
"Sebenarnya
bunda sudah tahu sejak kamu tinggal di sana, kalian bakal saling jatuh hati.
Bunda juga sudah tahu perihal kakak iparmu yang sebenarnya tidak mencintai
kakakmu. Kondisi yang menyebabkan kalian harus begini bukan? Tetapi dek, Bunda
meminta dengan sangat agar kamu tidak egois. Ia adalah suami kakakmu nak. Tidak
seharusnya kamu merebut cinta dari kakakmu sendiri..."
Aku tak berkata
apa-apa. Aku menangis dalam kebisuanku. Harus apa aku sekarang? Aku mencintai
suami kakakku, yang tidak mencintai kakakku. Yang menikahi kakakku hanya karena
tanggung jawab dan menjaga nama keluarganya.
Pembaca Vemale
yang setia,
Aku bingung saat
ini. Apakah aku harus memilih melanjutkan cintaku ini atau menyudahinya demi
kakakku dan bayinya? Aku tak tahu harus bercerita pada siapa lagi. Dan aku
benar-benar tak tahu jawaban dari masalahku ini apa. Aku berharap kalian bisa
membantuku.
Wasslam,,,,,
0 komentar:
Posting Komentar